Kepuasan Hati Lebih Bermakna Dari Secarik Kertas

jump-dawnMumpung belum berangkat Jum’atan, aku sempatkan untuk menuliskan apa yang memang saat ini terjadi dan sering aku amati.

Entah hal ini bermula dari mana yang jelas saya melihat, hal ini sering dilakukan seseorang dalam melakukan sesuatu, ada yang “diincar” yaitu berupa sertifikat. Itu tak salah, karena sertifikat adalah sebuah bentuk pengakuan saja, namun dasar dari alasan jika hanya menginginkan sertifikat saja itu yang menurut saya kurang pas.

Seseorang ketika ingin melakukan sesuatu pasti didasari oleh niat. Niat ini bermacam-macam, niat ingin mendapatkan kepuasan hati, niat ingin mendapatkan ini itu dan lain sebagainya.

Sayangnya, saat ini masih banyak orang yang melihat nilai “sakral” dari secari kertas bernama sertifikat. Saya kurang tahu, seberapa besar nilai kertas itu dibanding nilai yang terdapat di diri mereka yang seolah-olah hanya mengandalkan sebuah kertas itu untuk dijadikan pegangan ke depan.

Bagi saya, nilai yang paling berharga itu adalah diri kita, kemampuan yang ada di diri kita. Kita mampu berbuat apa saja jika diri kita memang mampu untuk melakukannya, namun kita belum tentu mampu melakukan sesuatu meskipun kita sudah punya secarik kertas itu.

Pernah saya menemui seseorang yang ia diajak melakukan sesuatu yang ia sebenarnya tidak sukai, namun ia terpaksa melakukannya. Saya bertanya kepada dia, dan alasan dia adalah hanya menginginkan secarik kertas itu, katanya dengan kertas itu nanti akan mempermudah hidup kita kedepannya.

Entah saya yang salah atau gimana, soalnya memang saya memiliki cara pandang yang melawan arus dari kebanyakan orang, bahkan orang-orang menganggap saya aneh.

Bagi saya, ketika kita melakukan sesuatu janganlah didasari oleh yang bukan berasal dari jiwa kita. Lakukanlah sesuatu dari apa yang memang kita sukai karena nanti seberat apapun yang kita lakukan pastinya akan menghasilkan maha karya yang tak berwujud bernama kepuasan hati, dan itu tak dapat dinilai dan diukur dengan secarik kertas pun.

Yakinlah pada diri kita, yakinlah pada potensi kita, karena ketergantungan pada secarik kertas akan membuat diri kita merasa tak ada gunanya dan yang ada dipikiran hanya jika tanpa itu maka tak bisa maju.

Potensi diri kita memang tak terlihat, tak seperti secarik kertas, namun potensi diri kita memiliki nilai yang riil dan itu akan langsung berdampak daripada dengan memperlihatkan secarik kertas.

—————————————————–

Mohon maaf jika tulisan ini sangat menyinggung, tetapi saya tidak bermaksud menyinggung, karena memang saya memiliki pola yang melawan arus dari kebanyakan orang. Saya hanya ingin sharing dari apa yang telah saya amati.

7 pemikiran pada “Kepuasan Hati Lebih Bermakna Dari Secarik Kertas

  1. Sertifikat? Saya punya seabrek.🙂
    Bukan karena saya pemburu sertifikat, tapi memang saya suka ikut event apa aja. Sertifikat itu adalah akibat, bukan sebab.🙂

  2. iya itulah yang dilakukan kebanyakan orang… pernah dlu sampe aq sdikit marah juga sma temen.q krn dia memiliki alasan dengan keputusannya (tdak q sbutkan) tu hanya karena ikut2an tmn ta bilang ja kmu tu kalo melakukan sesuatu tu karena kamu memang menginginkannya jangn hny ikut2tan ja,, dan prnah juga diskusi sma temn yg jg berpndangan pnerimaan karyawan berdsarkan nilai ipk untuk seleksi awal,,,, jelas q tdak setuju krn ipk nilainya diambil sbagian besar hny brdsarkn tes tulis n tu kn just teori nilai ipk yg didptkn blm tentu hasilnya sndiri jg mengingat kbnykn orang indonesia skrg yg suka meniru/nyontek… sedangkan utk yg ipk pas2an/rendah tdk memiliki kesempatan utk menunjukkn kemampuannya kpd peusahaan yg ingin dilamarnya tu, bisa jadi yg nilai ipk.ny lebih rendah memiliki kemampuan yg lebih dibnding yg ipk tinggi,, lalu benarkah tujuan kuliah hny sebatas ipk tinggi saja?? jika persyrtn trs demikian tu berarti yg ipk rendah termarginalkan bhkn bisa dibilng sprti tdk dianggp..pdhl menurut.q smw org memiliki hak yg sma dalam memilih pekerjaan kalo tdk diberi kesempatn bgmn bisa mereka menunjukkn kemampuannya,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s